[CHAPTERED] Rancorous Prosecutor – Part 4


[CHAPTERED] Rancorous Prosecutor – Part 4

rancorous-prosecutor

Rancorous Prosecutor

Byun Baekhyun (EXO), Kim Taeyeon (SNSD)

Chaptered | Crime, Romance, Drama | PG13

ChocoYeppeo Presents—

Warn!ng: Manipulasi usia dan kelabilan penulis :”>

Previous: Part 1 # Part 2 # Part 3

“Ku rasa kau harus menempelkan es ke pipimu yang merah itu,” Baekhyun menyentuh dagu Taeyeon dengan ujung jari telunjuknya. Ia tersenyum geli melihat wanita itu yang mendadak kaku, “Hei, bicaralah lagi. Mengapa kau seperti itu?” ia mencubit singkat pipi Taeyeon.

 

Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan barisan apartemen yang salah satunya menjadi tempat tinggal sementara Taeyeon. Baekhyun menghentikan mobilnya asal, “Silakan pulang dengan selamat, Tuan Putri,” gumam lelaki itu sambil mengacak puncak kepala wanita yang di sampingnya.

 

“Tuan Putri apanya,” gadis itu tersenyum remeh, “Mampirlah dahulu selagi ibuku dan Taehyung belum kembali ke Incheon,” tawar Taeyeon sembari melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.

 

“Taeyeon,” panggilan itu sukses menghentikan Taeyeon yang baru setengah badan keluar dari sana. Baekhyun menggeser duduknya dan langsung menangkup wajah Taeyeon dengan cepat. Tanpa berpikir panjang lelaki itu mencium keningnya agak lama karena yang dicium pun justru membeku di posisinya—yang sebenarnya kurang nyaman, ia membungkuk.

 

Beberapa detik kemudian, Baekhyun kembali ke posisinya dengan senyuman tulus yang tak kunjung hilang dari wajahnya, “Kemari. Aku akan memarkirkan mobil ke basement. Kita masuk bersama,” ajak Baekhyun yang kemudian ditanggapi sebuah anggukan oleh Taeyeon sambil ia masuk kembali ke dalam mobil.

 

Kedua sejoli yang baru hendak menikah itu berjalan meyusuri koridor tak berapa lama setelah memarkir mobil di lantai bawah tanah. Baekhyun melingkarkan lengannya pada pundak Taeyeon dan sesekali menarik-nariknya, mengajak wanita di sampingnya bercanda. Di pintu ke tujuh, Taeyeon langsung menekan beberapa digit angka di tempat yang telah di sediakan dan sesaat kemudian mereka masuk ke apartemen Taeyeon.

 

Taehyung yang sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu, dalam waktu singkat meraih kerah Baekhyun kasar. Ia menatap tajam beberapa senti di depan lelaki yang baru masuk dan agak terkejut itu, “Berani-beraninya, kau!” ia melayangkan kepalan tangan kanannya ke pelipis Baekhyun dan dalam sekali pukul itu sudut bibirnya langsung berdarah.

 

“Taehyung! Lepaskan dia!” Taeyeon berusaha membawa lengan adiknya yang masih mencengkeram Baekhyun dan akhirnya yang diteriaki pun melepaskannya.

 

Baekhyun hanya menatap tak percaya pada lelaki yang jauh lebih muda darinya itu sambil terus menelungkup sisi wajahnya yang sedikit ngilu akibat pukulan Taehyung, “Apa maksudmu? Mengapa kau tiba-tiba memukulku?” tanyanya dengan nada agak meninggi.

 

“Jangan buat masalah lagi,” Taeyeon menyingkirkan tubuh Taehyung yang agak menghalanginya kemudian berlalu dengan menggandeng tangan Baekhyun di belakangnya sedangkan Taehyung sendiri masih menatap penuh api laki-laki yang semakin menjauh dari pandangannya.

 

Ibu Taeyeon yang masih berkutat di dapur sedikit terkesiap ketika melihat putrinya berlalu melewati dapur bersama Baekhyun yang masih memegangi sisi mukanya, “Ya Tuhan. Ada apa ini?” wanita paruh baya itu beringsut mendekati dua orang itu dan membuat mereka membalikkan badan, “Baekhyun-ssi, apakah kau baik-baik saja? Bagaimana bisa wajahmu lebam seperti itu?” ia mengulurkan tangannya di sisi wajah Baekhyun lantas lelaki itu mengaduh kesakitan.

 

“Ibu, biarkan aku menanganinya dulu,” ucap Taeyeon yang langsung tersenyum tipis dan meninggalkan ibunya.

 

“Setelah itu, makanlah. Ibu sudah membuatkan beberapa masakan sederhana,” ujar ibu Taeyeon yang terus melihat punggung Taeyeon juga Baekhyun.

 

“Apakah kau memukulnya?” wanita itu menoleh dengan wajah khawatir ketika menyadari putranya berjalan serampangan melewatinya. Yang di panggilnya itu hanya melirik sekilas dengan wajah datarnya, “Hm.”

 

—o0o—

 

Baekhyun terus melahap makanan yang tersaji di hadapannya karena memang mereka semua—maksudnya makanan itu—terlihat mantap di matanya. Sesaat ia menyadari jika ibu Taeyeon yang duduk di seberangnya terus memaku perhatian kepadanya. Ia berhenti menggerakkan jemarinya yang memegang sumpit dengan lihai dan mendongak membalas mata calon mertuanya. Ia tersenyum kaku sambil menundukkan kepalanya sekali lalu melanjutkan acaranya.

 

“Apapun yang dibuat Eommoni selalu enak,” gumam Baekhyun di sela-sela kunyahannya.

 

“Baekhyun-ssi,” ibu Taeyeon memanggil lelaki itu dengan nada sayang, “Tolong jaga putriku sebaik mungkin, ya?” lanjutnya ketika Baekhyun mendongak dan menegakkan tubuhnya.

 

Baekhyun tergeming. Ia meletakkan dua batangan kayu kecil di tangannya itu perlahan-lahan, “Aku menjanjikannya,” ucapnya tegas tak lupa seraya mengurai senyum lebarnya.

 

“Cih! Kau bahkan tak merasa bersalah?!” Taehyung yang ikut-ikutan menghentikan makannya itu mencibir Baekhyun dengan suara agak lirih. Kedua netranya melirik Baekhyun dengan sinis yang kemudian mendapat pukulan tepat di kepalanya, dari siapa lagi kalau bukan Taeyeon, “Hei! Kau-” ia mengusap-usap kepalanya dan menatap kakaknya tak suka.

 

“Aku meminta izin mengajak Taeyeon ke dokter. Kemarin pasti ia belum memeriksakan dirinya,” pinta Baekhyun yang kemudian melirik wanita di sampingnya untuk mengingatkan kembali hari yang lalu ketika ia meminta Taeyeon untuk segera periksa. Baekhyun berterimakasih ketika ibu Taeyeon mengangguk pasti menyetujui permintaannya.

 

Taeyeon menghentikan lagi makannya yang baru saja diteruskan setelah memukul adik lelaki menyebalkannya tadi. Ia mendelikkan kedua matanya ke arah Baekhyun ketika di saat yang sama ia tersedak kecil, “Aku tidak mau! Ini masih terlalu dini,” ujarnya menolak mentah-mentah. Oh, ia bersyukur sekarang hatinya sudah sedikit melupakan kejadian itu. Mulai sekarang, yang ada di ingatannya adalah nyawa mungil di perutnya itu merupakan anak Baekhyun.

 

“Kita harus rutin. Bukannya ini hari ketujuh?”

 

Taeyeon menggeleng, “Memangnya sudah bisa? Tidak, bulan depan saja, ah!”

 

Ibu Taeyeon bangkit dari duduknya sambil terus mengulum senyum memerhatikan putrinya bersama Baekhyun itu. Ia melihat kebahagiaan yang sebenarnya di mata gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh sampai melampaui tinggi ibunya. Ia menarik Taehyung untuk berhenti makan dan meninggalkan dua orang lain di sana.

 

“Eh, Ibu! Ibu! Aku belum selesai, Bu! Aku masih lapar. Sepiring saja belum habis padahal aku biasa makan dua porsi. Ibu! Aduh!” pemuda itu terus melawan dan menarik-narik tangannya melepaskan diri tetapi pada akhirnya ia tetap menyerah dan keluar dari tempat duduknya sambil mengambil satu paha-ayam goreng yang belum ia selesaikan.

 

“Awas saja jika kau berani menyakiti Taeyeon untuk yang kedua kalinya!” Taehyung melirik lelaki yang tengah bercanda dengan kakanya itu sebelum ia benar-benar pergi dari ruang makan bersama ibunya.

 

—o0o—

 

“Ada yang dapat saya bantu, Tuan?”

 

Yah, kesudahannya Taeyeon mau pergi ke dokter kandungan bersama Baekhyun yang sudah membujuknya berkali-kali sejak satu jam lalu. Bahkan di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pun pria itu tak henti berdebat kecil dengan Taeyeon sebab takut jika wanita itu melarikan diri. Taeyeon hanya membalas mata Baekhyun itu dengan tatapan ‘terserah kau saja’.

 

Baekhyun menghadap ke dokter wanita di ruangan itu yang tadi menanyainya, “Tolong periksa dia dan bayi dalam kandungannya,” minta Baekhyun sambil menaikkan tangannya—yang sejak tadi disembunyikan di saku celana—ke atas meja. Ia melihat Taeyeon sekilas dan kembali lagi ke dokter itu.

 

“Kalau boleh tahu, berapa usia kandungannya?” dokter itu membuka jurnal bersampul kuning di antara jurnal-jurnal lainnya yang berbeda warna satu sama lain. Ia mengambil penanya dan meletakkan tangannya di salah satu halaman kosong buku catatan itu, bersiap dengan beberapa jawaban pasiennya kali ini.

 

“Usianya satu minggu,” jawab Baekhyun.

 

Dokter bermarga Han di sana menghentikan gerakan lengannya mendengar balasan pria di depannya. Ia menutup mulutnya berusaha menutupi tawanya yang dapat menyembur kapan saja dan itu membuat Baekhyun menaikkan alisnya tidak mengerti. “Kalau satu minggu, belum ada yang dapat dipastikan,” komentar dokter kemudian sambil menutup pena hitamnya. Ia masih menahan tawanya.

 

Taeyeon yang mendengar itu juga ikut terkikih kecil. Ia melihat ke arah Dokter Han dan mengajaknya tertawa bersama dan itu membuat Baekhyun sedikit gemas, pastinya. Sebelumnya Taeyeon memang sudah mengiranya. Ia sendiri jadi geli dengan Baekhyun, “Kubilang juga apa.”

 

“Tidak. Pokoknya periksa saja kesehatan mereka. Aku akan menunggu,” ujar Baekhyun sambil bangkit dari duduknya dan melenggang keluar dari ruangan berding putih itu. Ia tersenyum kepada Taeyeon sebelum sungguhan menghilang di balik pintu, “Aku akan menunggu,” ulangnya.

 

Taeyeon memandang dokter Han seusai Baekhyun keluar. Ia tersenyum. Sebenarnya dokter ini adalah teman masa lalunya ketika masih sekolah dan pertemuan ini tak pernah dikiranya. Secara sudah bertahun-tahun mereka tak bertemu secara langsung.

 

“Aku menonton beritanya,” gumam dokter bernama Han Jungyeon itu sambil berdiri dan duduk di kursi samping Taeyeon tempat Baekhyun tadi. Ia memegang tangan Taeyeon, “Aku tak mengira kau seperti ini. Kuharap dia serius dengan hubunganmu.”

 

Taeyeon menggeleng sambil tersenyum dan membalas genggaman Jungyeon, “Tidak. Sebenarnya ini tidak seperti apa yang ada,” ujarnya yang tertu membuat dokter itu mengernyitkan dahinya tak paham dan meminta penjelasan.

 

Sementara itu, Baekhyun tengah menunggu Taeyeon di deretan kursi tunggu beberapa meter dari pintu ruang dokter kandungan. Ia menyanggakan kedua sikunya di paha sambil memikirkan entah apapun itu, “Apakah sungguh belum bisa diperiksa?” tanyanya pada diri sendiri menanggapi ucapan dokter, “Entahlah.”

 

[flashback]

 

Baekhyun bergegas merapikan mejanya sambil sekali-kali memperhatikan Taeyeon yang sudah lebih dulu selesai membersihkan tempat kerjanya. Lelaki itu memasukkan buku bacaan terakhirnya untuk dibawa pulang ke dalam tasnya kemudian ia berjalan cepat menyusul wanita itu, “Ah! Jaksa Kim!” panggilnya sehingga Taeyeon menoleh saat sampai di ambang pintu.

 

“Apakah kau setelah ini memiliki waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan malam. Sudah dua minggu yang lalu sejak kita makam bersama di luar,” ajak Baekhyun saat mendekati Taeyeon.

 

Taeyeon mengangguk setuju namun segera disela oleh sebuah suara yang mereka berdua tahu betul, “Sayangnya, Taeyeon akan kuajak makan malam juga sekarang,” ucap suara itu. Baekhyun menoleh ke sumber suara di sisi pintu dan Taeyeon membalikkan badannya berdiri di samping Baekhyun, “Ayo, sayang. Aku sudah memesan tempat juga,” terusnya lagi.

 

“Luhan, kau belum pulang?” sapa Taeyeon tak menghiraukan perkataan orang itu, Luhan, yang merupakan kekasih Taeyeon. Taeyeon menoleh ke arah Baekhyun yang sudah lebih dahulu memandangnya, “Maaf, tidak jadi. Aku akan pulang dengannya, Baekhyun,” gumam Taeyeon sambil menunduk dan berjalan mendekati Luhan.

 

Senyuman Baekhyun lambat-lambat menghilang namun senyum yang baru segera ia gantikan. Ia menggeleng sambil menggerakkan tangannya mempersilahkan keduanya untuk pergi dahulu, “Tidak masalah. Silakan, kalian duluan saja,” ujarnya berusaha tetap melukis senyum.

 

“Baiklah. Sampai jumpa lagi, Jaksa Byun,” Luhan tersenyum tak kalah lebar sembari merangkul wanita di sampingnya sambil mengambil alih tas kerja yang Taeyeon bawa.

 

Baekhyun membuang senyuman ketika matanya sudah tak mendapati mereka. Ini tak seperti yang ia harapkan dari awal. Mengapa pengacara itu harus muncul di setiap kali ia ingin pergi berdua dengan Taeyeon?! Baekhyun mengepalkan tangannya beberapa sekon kemudian membuang napasnya dengan kasar. Ia mulai melangkah meniggalkan ruangan yang telah kosong—karena belasan jaksa yang bekerja di dalam sudah keluar terlebuh dahulu.

 

Lelaki itu memandangi punggung Taeyeon dan Luhan yang sudah berada jauh di lorong sana. Ia sedikit merasa sesak ketika kerap kali pria di samping Taeyeon itu mengajak Taeyeon bergurau. Baekhyun beralih menatap pintu kerjanya dan langsung menariknya sampai tertutup rapat bahkan agak menimbulkan debuman keras. Menyebalkan, kesengajaan itu bahkan tak membuat mereka menengok ke belakang sekalipun.

 

Baekhyun mulai berjalan melewati jalan lain agar ia tak terus-terusan berada di balik mereka berdua. Tubuhnya yang sudah lelah bertambah letih seketika itu juga. Ia terus menunduk melihat kedua kakinya yang melangkah beriringan, “Mengapa malam ini aku sedikit tidak nyaman, ya?” gumamnya sendirian.

 

Ia menoleh ke belakang seakan ia dapat menemukan Taeyeon dan Luhan namun jelas itu tidak akan, “Ah, mungkin karena hari ini terlalu sibuk,” lanjutnya sambil mengibaskan tangannya membuang perasaan mengganjalnya.[]

 

-TBC-

Iklan

Give me your "Stars"

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s